Saturday, July 30, 2011

DRY GARDEN (taman kering)

  
Taman sebagai oasis untuk melepas kepenatan setelah menjalani aktivitas sehari-hari mulai mendapat tempat di masyarakat urban. Salah satu gaya taman yang paling cocok dengan gaya hidup urban sekarang ini adalah 'dry garden' atau taman kering, karena kemudahannya dalam perawatannya. Taman kering ini bisa ditempatkan dihalaman luar ataupun dalam ruangan, kalau halam terlalu luas bisa dibuat pada sudut-sudut halaman.

elemen - elemen untuk membuat taman kering ;
  • Tanaman, pilihlah tanaman yang tidak membutuhkan air yang banyak, bisa dari jenis kaktus, palm, perdu-perduan atau pohon-pohon berdaun kecil. Biasanya dalam satu taman tidak lebih dari 3 jenis tanaman.
  • Batu coral, atau batu kali giling sebagai pengganti rumput. Batu koral bisa ditata membentuk corak-corak tertentu berdasarkan pembedaan warna ( coral putih, hitam dan coklat). Contoh diatas penyusunan batu diatur hingga membentuk seperti aliran sungai.
  • Art work 3 dimensi, bisa berupa batu besar suiseki (seni memilih batu yang mirip dengan benda tertentu), patung (sebaiknya patung abstrak) ataupun bisa dalam bentuk miniatur tertentu seperti gambar diatas, miniatur jembatan, kelenteng dll.
ayo selamat mencoba dan berekperimen di hari libur anda nanti.....

                                                                                                                                                                                                                                       

Friday, July 29, 2011

RUMAH BATU

TAMPIL CANTIK DENGAN BATU ALAM

BATU alam sebagai salah satu elemen pelengkap taman memang dapat menambah nilai estetika. Bukan hanya taman, di dalam bangunan pun Anda boleh mengaplikasikan susunan batu alam nan cantik.

Batu alam merupakan salah satu elemen yang mampu membuat hunian Anda tampak lebih alami. Pilihan bentuk dan coraknya beragam, bergantung kesan apa yang ingin Anda tonjolkan. Adapun pilihan batu alam itu antara lain marmer, granit, batu candi, batu gamping, batu andesit, dan paras jogja.

Walau sejumlah orang menganggap batu alam hanya sebagai pelengkap, tapi siapa sangka batu bila alam diaplikasikan ke dalam hunian, tidak hanya kesan alami yang didapatkan. Lebih dari itu, susunan batu alam yang ditata sedemikian rupa bisa menjadi salah satu media yang berfungsi sebagai focalpoint di dalam rumah.

Menurut arsitek Briyan Talaosa, kesan yang timbul saat batu alam diaplikasikan pada hunian atau bangunan adalah homey dan nyaman. Sebab, karakter batu alam cenderung kuat dan kasar. Batu alam pun bisa digunakan sebagai salah satu media untuk menjadikan spot tertentu sebagai focal point.

Kendati demikian, tidak lantas saat mengaplikasikannya ke dalam hunian, kesan tersebut bisa langsung didapat. Semua bergantung pada cara Anda menerapkannya.
Prinsipnya, Briyan menyebutkan, penyusunan dan pemakaian batu alam pada bangunan selain sebagai aksen yang sifatnya mempercantik, juga sebagai alternatif penguat karakter bangunan. Untuk itu, prinsip dasar yang biasanya harus diperhatikan dalam mengaplikasi batu alam adalah pola penyusunannya.

Cara penyusunannya ada dua. Setelah ditentukan bidang yang akan ”ditempel” batu alam dan menentukan penyusunannya, Anda masih harus memperhatikan cara menempelkan batu alam, baik untuk dinding maupun di lantai. ”Jika Anda pilih batu tertentu, ada yang cara pemasangannya disusun layaknya menyusun pasangan bata yang lazim disebut susun sirih, ada juga yang ditempel seperti memasang keramik dinding,” kata Briyan.

Mengenai pola pemasangannya, lanjut Briyan, bisa sangat beragam, bergantung bentuk atau ukuran batu alam itu sendiri. Jika bentuknya persegi panjang, tentu akan berbeda pola dengan yang berbentuk kubus. Apalagi yang bentuknya tidak beraturan, seperti pada batu gamping pipih, tapi cenderung lebar.

Untuk aplikasi indoor maupun outdoor, batu alam tidak terlalu spesifik pembedaannya. Yang jelas, Briyan mengatakan, semua batu alam dapat dipakai untuk indoor maupun outdoor. Hanya, yang membedakan, bila batu alam diaplikasikan di luar, biasanya ada perlakuan khusus pada coating-an. Dalam arti, untuk finishing dipilih yang sifatnya selain dapat menahan kondisi cuaca yang tidak ramah, juga coating bersifat antijamur (untuk tipe tertentu).

Selain itu, setiap hal yang bersentuhan langsung dengan alam bila tidak ingin cepat timbul efek yang tidak diinginkan, sebaiknya dilakukan treatment khusus dalam rangka memperpanjang usia material itu sendiri.

”Pada batu alam biasa kita lakukan coating atau pelapisan dengan cairan semacam cat. Ada yang efeknya mengkilat atau glossy, ada yang efeknya natural seperti apa adanya, dan pada jenis batu tertentu ada yang diberi coating berwarna hitam atau gelap. Semua bergantung pada komposisi yang ingin kita ciptakan,” ungkap Briyan.

Sementara batu alam yang ada di dalam rumah biasanya berhubungan dengan tema desain. ”Jadi, komposisi dan warna batu yang kita pilih untuk kita aplikasikan pada desain atau hunian sebaiknya harus tetap menjadi sebuah komposisi yang harmonis dan asri,” tandasnya.

Misalnya, sebut Briyan, pada tema minimalis menggunakan batu alam yang cenderung pola ukurannya rapi atau tidak dalam bentuk acak-acakan, seperti batu gamping. Bisa juga menggunakan batu andesit pada tema minimalis dengan metode disusun sirih atau batu palimanan yang cenderung kita kenal sebagai ornamen pada tema hunian Mediteranian.

Sebenarnya penggunaan material batu alam bisa kita arahkan dan kita jadikan sebagai aplikasi pada tema desain tertentu. Lantas, permukaan batu yang bagaimana yang bagus untuk diekspos?

Briyan menuturkan, semua batu alam dari berbagai warna dan karakter bahan, dari yang paling halus permukaannya sampai yang kasar, semua layak ditampilkan atau diekspos.

”Yang jelas, menurut saya, jika kita sudah memilih batu alam sebagai salah satu media ekspresi pada hunian, kita harus tetap menghargainya sebagai batu alam ’yang jujur’ tanpa harus dicat dengan warna lain,” ucapnya.

Ambil contoh marmer atau granit, batu gamping atau batu candi, paras jogja atau banyak batuan lain yang sering dijumpai, sebaiknya biarkan karakter batu tersebut yang menjadi warna pada dinding atau tekstur batu tersebut mengisi fasad bangunan atau bahkan dinding ruang dalam.

POLA PEMASANGAN BATU ALAM

  POLA SUSUN SIRIH 
Dinamakan Batu Susun Sirih karena cara pemasangannya yang menyerupai tumpukan daun sirih yang berhelai-helai. Tidak seperti lazimnya pola pemasangan batu alam yang menampakan seluruh permukaannya, batu susun sirih dipasang dengan cara tidur sehingga hanya bagian sisinya yang berupa patahannya saja yang terlihat yang justru merupakan titik point yang ingin ditonjolkan.

Secara umum semua batu alam yang berbentuk lembaran dapat dijadikan pola susun sirih, namun begitu yang dominan untuk susun sirih adalah batu templek, diantaranya templek Salagedang, templek Purwakarta dan templek Garut/Tasik. Dari semua jenis itu templek Salagedanglah yang paling familiar untuk pola pemasangan susun sirih ini.

Ukuran batu untuk susun sirih ini biasanya 5x20, 5x15, 3x20 dan 3x15 dengan ketebalan berkisar 1-1.5 cm. Karena dibuat dengan cara di pahat maka ukuran di atas hanyalah kira-kira saja, kelebihan dan kekurangan ukuran tidaklah menjadi sesuatu yang penting karena toh pada saat pemasangan faktor ukuran ini bukan menjadi masalah utama, dan hasil akhir pemasangan lebih bergantung kepada kreatifitas tukang.

Saat ini seiring maraknya batu andesit, muncul ke pasaran batu Andesit Susun Sirih dengan variasi ukuran, mulai 3x20 sampai dengan 3x60. Untuk ukuran panjang lebih dari 60 cm sangat tidak dianjurkan karena rentan patah.
   


                                                                                                     

BATU ALAM UNTUK EXTERIOR & INTERIOR

Untuk memunculkan kesan alami pada sebuah ruang, penggunaan batu alam merupakan pilihan sebagian besar orang. Kesan yang diberikan oleh tiap jenis batu alam berbeda beda. Ada yang berkarakter kuat, lembut, alami, bersih, dll. Untuk itulah kita perlu mengenali dahulu jenis jenis batu alam ini, sehingga dalam tepat dalam aplikasi desainya nanti.
Berikut ini beberapa batu alam yang banyak digunakan di Indonesia:

penggunaan batu alam pada ruang keluarga
penggunaan batu alam pada ruang keluarga

Batu candi
Batu ini berupa lempengan. Mudah menyerap air karena berpori besar. Teksturnya kasar. Apabila terkena air, warna batu lebih kelam. Biasanya semakin hitam. Ukuran yang tersedia: 10 cm x 20 cm, 15 cm x 30 cm, dan 20 cm x 20 cm. Tersedia pula ukuran lebih besar, berkisar antara 20 cm x 30 cm, 20 cm x 40 cm, dan 40 cm x 40 cm.
Umumnya batu candi digunakan pada eksterior. Misalnya di teras, selasar, dan pagar. Namun, tak tertutup kemungkinan batu candi dipakai pada interior. Biasanya hanya sebatas pemanis ruangan.
Batu paras
Beda dengan batu candi, batu paras memiliki tekstur lebih halus. Proses pembuatannya dibantu mesin penghalus. Warna pun lebih terang. Ada yang kuning, hijau, cokelat, dan putih. Ukuran yang umum diperjualbelikan adalah 10 cm x 10 cm sampai 20 cm x 40 cm.
Batu ini cocok di segala ruang, eksterior maupun interior. Sebagai aksen dinding atau lantai. Namun, jika aplikasi batu paras di ruang eksterior perlu proses coating. Tingkat porositasnya yang tinggi membuat batu ini mudah lembap dan ditumbuhi lumut.
Hal penting yang perlu diketahui saat pemasangan, gunakan adukan semen yang lembek agar batu dapat terikat kuat pada dinding.
Batu kali
Bongkahan menjadi ciri utama batu kali. Batu ini biasa digunakan untuk fondasi rumah. Meski begitu, tersedia juga batu kali lempengan. Bentuk dan ukurannya biasanya tidak teratur. Lempengan batu ini biasa dipakai untuk lapisan dinding ataupun lantai.
Bentuk dan ukuran yang tidak beraturan jelas membuat proses pemasangan agak sedikit ribet. Butuh tukang ahli supaya hasilnya rapi.
Batu andesit
Batu ini paling keras di antara batu alam yang umum dipakai. Tingkat porositasnya paling kecil karena berpori rapat. Warnanya gelap. Ukuran yang tersedia mulai 5 cm x 20 cm, sampai 20 cm x 40 cm, dengan ketebalan 3-4 cm.
Seperti halnya batu paras, penggunaan batu ini cocok di segala ruang. Pola yang banyak digunakan adalah susun bata. Pola ini menjadikan struktur pelapis dinding ini kuat karena saling mengikat.

ZEN GARDEN




Thursday, July 28, 2011

MEMASANG BATU ALAM

OLEH:fajar arifianto

Memasang batu alam tak jauh berbeda dengan memasang keramik. Namun, tentu saja ada beberapa hal yang berbeda. Berikut tips memasang batu alam:

1. Sebelum dipasang, sebaiknya batu alam direndam dalam air. Sebab batu alam memiliki pori-pori yang besar sehingga bila ditempel langsung biasanya mudah lepas


2. Bila akan dipasang pada dinding, kupas acak permukaan dinding agar batu alam akan lebih kuat menempel pada dinding




3. Batu alam memiliki presisi yang tidak terlalu pas. Penyimpangan ukuran pada batu alam bisa mencapai 5 mm atau bahkan 1 cm. Kalau sudah begini, hasilnya bisa dipastikan tidak akan rapi. Karena itu perhatikan benar presisi batu pada saat membeli, dan gunakan tukang yang sudah berpengalaman dalam pemasang batu alam

4. Batu alam relatif berat karenanya Anda membutuhkan semen yang lebih banyak, mutu pasir yang baik dan air yang bersih sebagai 'lem' penempel. Makin rendah mutu adukan, makin mudah batu tersebut lepas. Pastikan pula adukan semen diaplikasikan secara merata pada permukaan batu yang akan ditempel jangan hanya bagian tengahnya




5. Jangan membiarkan bekas semen di permukaan batu sampai kering. Batu memiliki sifat porous (menghisap air) sehingga apabila semen didiamkan di permukaan batu sampai kering, maka akan sangat sulit dihilangkan 6. Setelah pemasangan, sikat permukaan batu dan keringkan. Lalu lapisi dengan cairan coating. Apabila sering terkena air permukaan batu akan anti jamur dan lumut serta mengkilat sampai setengah tahun. (Dikutip dari: Republika online dan http://www.info-rumah.com/)

Untuk menghindari masalah pada Batu alam CEMENTAID mempunyai solusinya : a. Bercak Putih pada Batu Alam (Eflorescence) - gunakan STAINX STAINX dicampurkan pada mortar untuk menempelkan batu alam, serta pada mortar pengisi celah nat

b. Anti Jamur dan Lumut - Gunakan DRICEAL dan GLOSCOAT DRICEAL - Anti-Lumut Waterbased & Tidak Merubah Warna (Natural), Tahan > 1.5 Tahun GLOSCOAT - Anti - Lumut, Mengkilap / Glossy (Wetlook), Tahan > 3 Tahun Dengan DRICEAL dan GLOSCOAT anda tidak perlu sering mengcoating ulang batu alam anda setiap setengah tahun sekali. Lebih mudah, Hemat dan Tahan Lama. Jika anda mempunyai masalah jamur atau lumut pada batu alam anda