Sunday, June 26, 2011

PENYAKIT PADA TANAMAN HIAS


Penyakit yang menyerang tanaman hias pada umumnya disebabkan oleh dua penyebab utama yaitu jamur dan bakteri. Serangan jamur lebih sering dijumpai daripada serangan bakteri. Jamur berkembang biak dan memperoleh makanan dari tanaman. Mereka mudah memperbanyak diri dengan miselium dan spora. Pencegahan serangan penyakit bisa dilakukan dengan menjaga kebersihan lingkungan tumbuh tanaman, media tanam yang steril dengan PH yang tepat, menjauhkan tanaman yang terserang penyakit dari tanaman yang sehat serta penyemprotan fungisida/bakterisida secara bekala.
Berikut adalah beberapa penyakit yang sering menyerang tanaman hias :
1. Busuk Akar
Busuk akar disebabkan oleh serangan jamur Phytium.Sp. Busuk akar terjadi karena media tanam terlalu basah dan berkelembaban tinggi. Air yang terlalu lama menggenang menyebabkan media menjadi becek dan dalam waktu singkat menyebabkan akar menjadi busuk, daun menjadi pucat, layu lalu busuk.
Pencegahan yang paling penting adalah dengan menggunakan media tanam yang porous, steril dan menjaga agar media tidak terlalu lembab dan basah berlebihan. Namun apabila serangan sudah terjadi, maka segera bongkar media, buang akar yang terserang, lalu oleskan/spray fungisida seperti Dythane atau Antracol. Lalu tanam kembali kedalam media baru yang porous dan steril.
Pencegahan dan penanganan tanaman yang terserang busuk akar bisa pula dilakukan dengan penyemprotan fungisida sistemik seperti Previcur N dengan dosis 2 ml/Liter.
2. Layu Fusarium
Layu Fusarium disebabkan oleh jamur Fusarium Oxysporium. Layu Fusarium terjadi karena media tanaman terlalu masam dan basah/lembab berlebihan. Gejala serangan ditandai dengan memucatnya tulang daun sampai berubah menjadi coklat keabu-abuan, kemudian diikuti dengan menunduknya tangkai yang membusuk. Apabila perbatasan antara akar dan batang dipotong, maka akan terlihat cincin cokelat kehitaman diikuti busuk basah pada berkas pembuluh.
Pencegahan yang perlu dilakukan adalah dengan cara mencegah media tanam basah/becek terlalu berlebihan. Namun apabila serangan sudah terjadi, maka gunakan fungisida Derosal 500 SC dosis 2 ml/Liter, atau Delsane dosis 2 Gr/Liter, atau Folicur 25 WP dosis 2 Gr/Liter. Apabila serangan sudah cukup parah, maka sebaiknya terapi fungisida diikuti dengan penggantian media tanam yang steril.

3. Layu Bakteri
Layu bakteri disebabkan oleh bakteri Erwinia Coratovora. Bakteri ganas yang mampu merusak tanaman dalam waktu singkat. Serangan layu bakteri ditandai dengan melunaknya daun dan batang, seperti habis terkena air panas, berwarna cokelat dan mengeluarkan bau yang busuk, karena terjadi kerusakan jaringan tanaman. Bagian tanaman yang terserang akan mengeluarkan lendir putih, kental dan lengket.
Pencegahan yang harus dilakukan adalah menjaga kebersihan lingkungan tanaman, hindari kelembaban yang terlalu berlebihan dan jangan sampai membiarkan media terlalu basah dalam waktu lama. Apabila serangan telah terjadi, maka hal paling awal yang harus dilakukan adalah membuang bagian tanaman yang terserang lalu dibakar, agar tidak menular kepada tanaman yang sehat. Jauhkan tanaman yang terserang dari tanaman yang sehat. Lalu semprot tanaman dengan bakterisida Agrept dosis 2 gr/Liter pada seluruh bagian tanaman. Untuk lebih memastikan efektifitas treatmen yang kita lakukan, maka sebaiknya segera ganti media tanam dan pot dengan yang baru dan steril.
Untuk serangan yang cukup serius, maka gunakan Agrept dosis 2gr/Liter dicampur dengan fungisida Folicur 250 EC dosis 2ml/Liter. Bahkan beberapa hobiis menggunakan cara mencabut tanaman dari media, dicuci bersih lalu direndam dalam larutan tadi sampai 1 jam.
4. Bercak Daun
Bercak daun disebabkan oleh jamur Botrytis Sp. Cirinya adalah munculnya bercak di daun. Bercak tersebut langsung menyambung dengan warna asli daun yang sehat. Bercak tersebut lama kelamaan akan membusuk.
Seperti pada penyakit tanaman lainnya, maka cara pencegahan yang bisa dilakukan adalah menjaga kebersihan lingkungan serta menjaga agar media tanam tidak basah secara berlebihan.
Apabila serangan sudah terjadi, maka buang bagian tanaman yang terserang, lalu lakukan penyemprotan fungisida Sistemik macam Folicur 25 WP dosis 2 gr/Liter atau Folicur 250 EC dosis 2 ml/Liter.
5. Antraknosa
Penyebabnya adalah jamur Colletotrichum Gloesporioides yang mula-mula menyerang seludang bunga dengan gejala munculnya bercak kecoklatan. Pada lingkungan dengan kelembaban tinggi, bercak tersebut semakin meluas, tampak seperti berair dan mengalami kerusakan atau nekrosis. Jika dibiarkan, penyakit akan menjadi semakin parah yang pada akhirnya bisa menyebabkan kematian.
Apabila serangan sudah terjadi, maka perlu dilakukan penyemprotan fungisida seperti Dythane 2 Gr/Liter atau Folicur 250 EC dosis 2 ml/Liter.
6. Bercak Kuning
Bercak kuning sering menyerang Anthurium dan telah menjadi momok yang menakutkan bagi pekebun dan hobiis. Anthurium yang terserang penyakit bercak kuning umumnya sulit disembuhkan, karena penyakit ini sangat cepat menyebar ke seluruh tanaman.
Mula-mula muncul noktah kecil berwarna kuning pada daun yang semakin lama semakin lebar, hingga seluruh permukaan daun anthurium tertutup warna kuning. Setelah satu daun terserang, maka daun-daun yang lain tinggal menunggu giliran, sampai semua kuning dan akhirnya tidak bisa diselamatkan.
Sampai saat ini masih belum diketahui secara pasti penyebab penyakit ini. Para hobiis menganggap penyakit ini bersifat multifactor seperti media terlalu lembab, aliran udara tidak lancar, komposisi media kurang tepat dan kelebihan pupuk kandang.
Meski belum pasti disebabkan oleh jamur, tetapi pengendalian dengan menggunakan fungisida patut dicoba. Cara paling ekstrim yang bisa dilakukan adalah menggunduli semua daun tanaman yang terserang, lalu semprot dengan larutan fungisida. Anakan yang muncul nantinya diharapkan akan menjadi tanaman yang sehat.
Demikian beberapa penyakit yang sering menyerang tanaman hias. Karena umumnya serangan penyakit ini disebabkan oleh lingkungan tanaman yang kurang bersih serta media tanam yang becek dan kurang steril, maka tindakan pencegahan dengan menjaga lingkungan tanaman yang bersih dan sehat, memperhatikan sirkulasi udara disekitar tanaman serta menggunakan media tanam yang porous dan tidak becek berlebihan, selayaknya diperhatikan. Semoga membantu.

Wednesday, June 15, 2011

SEKEMA BUDIDAYA TANAMAN

SEJARAH BUDIDAYA TANAMAN

BUDI DAYA TANAMAN HIAS
  OLEH:FAJAR ARIFIANTO
Budidaya Tanaman Anthurium
Anthurium adalah tanaman hias tropis, memiliki daya tarik tinggi sebagai penghias ruangan, karena bentuk daun dan bunganya yang indah, Anthurium yang berdaun indah adalah asli Indonesia, sedangkan yang untuk bunga potong berasal dari Eropa.
Di Indonesia tidak kurang terdapat 7 jenis anthurium, yaitu Anthurium cyrstalinum (kuping gajah), Anthurium pedatoradiatum (wali songo), Anthurium andreanum, Anthurium rafidooa, Anthurium hibridum (lidah gajah), Anthurium makrolobum dan Anthurium scherzerianum.
• Anthurium dapat diperbanyak dengan 2 cara, yaitu generatif (biji) dan vegetatif (stek).
1. Perbanyakan dengan cara generatif (biji)
Tanaman anthurium memiliki 2 macam bunga (Gambar 1) yaitu bunga jantan dan bunga betina. Bunga jantan ditandai oleh adanya benang sari, sedangkan bunga betina ditandai oleh adanya lendir. Biji diperoleh dengan menyilangkan bunga jantan dan bunga betina.
Dengan menggunakan jentik, bunga sari diambil dan dioleskan sampai rata di bagian lendir pada bunga betina. Sekitar 2 bulan kemudian, bunga yang dihasilkan sudah masak, di dalamnya terdapat banyak biji anthurium. Biji-biji tersebut di kupas, dicuci sampai bersih dan diangin-anginkan, kemudian ditabur pada medium tanah halus. Persemaian ditempatkan pada kondisi lembab dan selalu disiram.
2. Perbanyakan dengan cara vegetatif (stek)
Ada 2 cara perbanyakan secara vegetatif, yaitu stek batang dan stek mata tunas. Cara perbanyakan dengan stek batang adalah memotong bagian atas tanaman (batang) dengan menyertakan 1 – 3 akar, bagian atas tanaman ‘yang telah dipotong kemudian ditanam, pada medium tumbuh yang telah disiapkan. Sebaliknya perbanyakan dengan mata tunas adalah mengambil satu mata pada cabang, kemudian menanam mata tunas pada medium tumbuh yang telah disiapkan.
• Penyiapan Medium Tumbuh
Berdasarkan kegunaannya, medium tumbuh dibagi menjadi 2 macam, yaitu medium tumbuh untuk persemaian dan untuk tanaman dewasa. Medium tumbuh terdiri dari campuran humus, pupuk kandang dan pasir kali. Humus atau tanah hutan dan pupuk kandang yang sudah jadi di ayak dengan ukuran ayakan 1 cm, sedangkan pasir kali di ayak dengan ukuran ayakan 3 mm.
Humus, pupuk kandang dan pasir kali yang telah di ayak, dicampur dengan perbandingan 5 : 5 : 2. Untuk persemaian, medium tumbuh perlu disterilkan dengan cara mengukus selama satu jam.
• Penyiapan Pot
Untuk menanam bunga anthurium, dapat digunakan pot tanah, pot plastik atau pot straso. Pot yang paling baik adalah pot tanah karena memiliki banyak pori-pori yang dapat meresap udara dari luar pot. Apabila digunakan pot yang masih baru, pot perlu direndam dalam air selama 10 menit. Bagian bawah pot diberi pecahan genting/pot yang melengkung, kemudian di atasnya diberi pecahan batu merah setebal 1/4 tinggi pot. Medium tumbuh berupa campuran humus, pupuk kandang dan pasir kali dimasukkan dalam pot
• Pemeliharaan
Setelah tanam, tanaman dipelihara dengan menyiram 1 – 2 kali sehari. Daun yang sudah tua atau rusak karena hama dan penyakit, dipotong agar tanaman tampak bersih dan menarik. Sebaiknya tanaman ini dipelihara di tempat teduh karena tanaman tidak tahan sinar matahari langsung.
Budidaya Tanaman Anggrek
Sumber : http://www.deptan.go.id/ditlinhorti/
Secara alami anggrek (Famili Orchidaceae) hidup epifit pada pohon dan ranting-ranting tanaman lain, namun dalam pertumbuhannya anggrek dapat ditumbuhkan dalam pot yang diisi media tertentu. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi pertumbuhan tanaman, seperti faktor lingkungan, antara lain sinar matahari, kelembaban dan temperatur serta pemeliharaan seperti : pemupukan, penyiraman serta pengendalian OPT.

Pada umumnya anggrek-anggrek yang dibudidayakan memerlukan temperatur 28 + 2° C dengan temperatur minimum 15° C. Anggrek tanah pada umumnya lebih tahan panas dari pada anggrek pot. Tetapi temperatur yang tinggi dapat menyebabkan dehidrasi yang dapat menghambat pertumbuhan tanaman.
Kelembaban nisbi (RH) yang diperlukan untuk anggrek berkisar antara 60–85%. Fungsi kelembaban yang tinggi bagi tanaman antara lain untuk menghindari penguapan yang terlalu tinggi. Pada malam hari kelembaban dijaga agar tidak terlalu tinggi, karena dapat mengakibatkan busuk akar pada tunas-tunas muda. Oleh karena itu diusahakan agar media dalam pot jangan terlampau basah. Sedangkan kelembaban yang sangat rendah pada siang hari dapat diatasi dengan cara pemberian semprotan kabut (mist) di sekitar tempat pertanaman dengan bantuan sprayer.
Berdasarakan pola pertumbuhannya, tanaman anggrek dibedakan menjadi dua tipe yaitu, simpodial dan monopodial. Anggrek tipe simpodial adalah anggrek yang tidak memiliki batang utama, bunga ke luar dari ujung batang dan berbunga kembali dari anak tanaman yang tumbuh. Kecuali pada anggrek jenis Dendrobium sp. yang dapat mengeluarkan tangkai bunga baru di sisi-sisi batangnya. Contoh dari anggrek tipe simpodial antara lain : Dendrobium sp., Cattleya sp., Oncidium sp. dan Cymbidium sp. Anggrek tipe simpodial pada umumnya bersifat epifit.
Anggrek tipe monopodial adalah anggrek yang dicirikan oleh titik tumbuh yang terdapat di ujung batang, pertumbuhannnya lurus ke atas pada satu batang. Bunga ke luar dari sisi batang di antara dua ketiak daun. Contoh anggrek tipe monopodial antara lain : Vanda sp., Arachnis sp., Renanthera sp., Phalaenopsis sp., dan Aranthera sp.
Habitat tanaman anggrek dibedakan menjadi 4 kelompok sebagai berikut :
• Anggrek epifit, yaitu anggrek yang tumbuh menumpang pada pohon lain tanpa merugikan tanaman inangnya dan membutuhkan naungan dari cahaya matahari, misalnya Cattleya sp. memerlukan cahaya +40%, Dendrobium sp. 50–60%, Phalaenopsis sp. + 30 %, dan Oncidium sp. 60 – 75 %.
• Anggrek terestrial, yaitu anggrek yang tumbuh di tanah dan membutuhkan cahaya matahari langsung, misalnya Aranthera sp., Renanthera sp., Vanda sp. dan Arachnis sp.
Tanaman anggrek terestrial membutuhkan cahaya matahari 70 – 100 %, dengan suhu siang berkisar antara 19 – 380C, dan malam hari 18–210C. Sedangkan untuk anggrek jenis Vanda sp. yang berdaun lebar memerlukan sedikit naungan.
• Anggrek litofit, yaitu anggrek yang tumbuh pada batu-batuan, dan tahan terhadap cahaya matahari penuh, misalnya Dendrobium phalaenopsis.
• Anggrek saprofit, yaitu anggrek yang tumbuh pada media yang mengandung humus atau daun-daun kering, serta membutuhkan sedikit cahaya matahari, misalnya Goodyera sp.
B. PERSILANGAN
Persilangan ditujukan untuk mendapatkan varietas baru dengan warna dan bentuk yang menarik, mahkota bunga kompak dan bertekstur tebal sehingga dapat tahan lama sebagai bunga potong, jumlah kuntum banyak dan tidak ada kuntum bunga yang gugur dini akibat kelainan genetis serta produksi bunga tinggi. Oleh karena itu untuk mendapatkan hasil yang diharapkan, sebaiknya dan seharusnya pedoman persilangan perlu dikuasai, antara lain :
• Persilangan sebaiknya dilakukan pada pagi hari setelah penyiraman. Kuntum bunga dipilih yang masih segar atau setelah membuka penuh.
• Sebagai induk betina dipilih yang mempunyai bunga yang kuat, tidak cepat layu atau gugur.
• Mengetahui sifat-sifat kedua induk tanaman yang akan disilangkan, agar memberikan hasil yang diharapkan, misalnya sifat dominasi yang akan terlihat atau muncul pada turunannya seperti : warna, bentuk, dan lain-lain.
• Bunga tidak terserang OPT terutama pada polen dan stigma.
• Setiap mendapatkan varietas baru yang baik, sebaiknya didaftarkan pada “Royal Horticultural Society” di London, dengan mengisi formulir pendaftaran anggrek hibrida dengan beberapa persyaratan lainnya.
Langkah-langkah yang dilakukan dalam melakukan penyerbukan (polinasi) adalah sebagai berikut :
• Sediakan sehelai kertas putih dan sebatang lidi kecil atau tusuk gigi atau sejenisnya yang bersih.
• Cap polinia yang terdapat pada ujung column dibuka, dimana akan terlihat di dalamnya polinia yang berwarna kuning.
• Ujung lidi/tusuk gigi dibasahi dengan cairan yang ada di dalam lubang putih atau dengan sedikit air.
• Polinia diambil dengan hati-hati. Pegang kertas putih sebagai wadah di bawah bunga untuk menghindari bila polinia jatuh pada waktu diambil.
• Polinia kemudian dimasukkan ke dalam stigma (kepala putik).
• Beri label yang diikatkan pada tangkai kuntum (pedicel) bunga yang berisi catatan tentang tanggal penyerbukan dan nama bunga yang diambil polinianya.
Beberapa hari kemudian bunga yang telah diserbuki akan layu. Apabila penyerbukan berhasil, dan bila tidak ada OPT, maka bakal buah tersebut akan terus berkembang menjadi buah. Buah anggrek ada yang masak setelah tiga bulan sampai enam bulan atau lebih. Buah yang masak akan merekah dengan dicirikan adanya perubahan warna buah dari hijau menjadi hijau kekuning-kuningan.
Dalam memilih biji anggrek yang akan disemaikan dalam botol perlu diperhatikan sebagai berikut :
• Biji yang berwarna keputih-putihan dan kosong adalah biji yang kurang baik.
• Biji yang baik yaitu yang bulat penuh berisi, berwarna kuning atau kecoklat-coklatan

JENIS BATU ALAM ELEMEN TAMAN

Batu alam menjadi favorit bagi keindahan dari rancangan suatu desain taman. Tampilan natural serta tekstur yang menjadikan batu alam begitu populer. Kali ini saya ulas 10 batu alam terfavorit (urutan tidak berpengaruh), jenis batu alam indah di Indonesia, yang tentunya sering dipakai sebagai bahan pelengkap suatu taman.

1. Batu Andesite
Jenis batu yang satu ini sudah lama digunakan sebagai bahan bangunan. Bahkan pada jaman kolonial Belanda, batu ini sering digunakan sebagai bahan untuk mempercantik dinding, pagar, jembatan, bahkan saluran irigasi. Memang pada dasarnya batu ini digunakan sebagai bahan ‘muka’ suatu bangunan. Batu ini diambil dari pinggir sungai dan dikerjakan secara manual oleh masyarakat pada umumnya.
Sifat batu yang padat dan tahan terhadap cuaca serta lumut, membuat batu ini menjadi favorit untuk mempercantik suatu bangunan. Apalagi tipe batu ini sesuai juga untuk bangunan yang memiliki gaya minimalis.
2. Batu Templek
Batu ini mengalami jaman keemasan dalam dunia arsitektur sejak zaman kemerdekaan. Ini dapat dilihat dari bangunan tua di daerah perkotaan dan rumah tua di Jatinegara, Jakarta Timur. Batu templek yang disusun secara random atau acak memang menjadi favorit di zamannya. Kemudian pola pemasangannya berubah menjadi susun sirih bernat lebar pada tahun 50-an. Kegunaannya pada saat itu adalah mempercantik kolom dan pagar rumah.
3. Batu Palimanan
Ini adalah batu favorit. Batu yang mulai dikenal pada tahun 50-an terkenal dengan warna yang dominan krem dengan corak batik berwarna coklat. Batu ini sangat disukai oleh masyarakat dan arsitek, karena dapat beradaptasi dengan elemen interior dan eksterior. Batu yang berasal dari Palimanan, Cirebon ini bisa diaplikasikan pada permukaan pagar, dinding, pada taman, pilar, dan masih banyak lagi. Sifatnya yang empuk menjadi keistimewaan batu ini, karena dapat dibentuk menjadi aneka ornamen dan patung.
4. Batu Candi
Sifat alami dan sejuk merupakan salah satu alasan mengapa batu ini memiliki banyak sekali penggemar. Batu candi sejak dulu memang sudah digunakan untuk membuat candi, stupa, dan patung. Walaupun mudah terserang lumut, tapi batu ini sering digunakan sebagai bahan dari elemen eksterior. Namun menurut saya kelemahan dari batu ini sangat cocok bagi sobat yang suka kesan alami.
5. Batu Paras Jogja
Batu putih berparas cantik dan alami ini banyak digunakan untuk mempercantik tampilan bangunan. Sifatnya yang empuk menjadikannya favorit para pematung atau pemahat batu. Batu ini dikenal pada tahun 60-an dan banyak digunakan sebagai elemen interior dan eksterior. Hampir sama dengan batu candi, batu ini juga mudah terserang lumut. Maka jika sobat ingin meletakkan sebagai elemen eksterior, ada baiknya memberi lapisan coating pada permukaannya.
6. Batu Hijau Sukabumi
Batu berwarna hijau ini adalah favorit saya juga. Saya lebih suka melihatnya bila diaplikasikan sebagai lapisan dari kolam renang. Warna hijaunya sangat sejuk dipandang mata dipadu dengan air yang memenuhinya. Batu ini berasal dari gunung-gunung yang ada di Sukabumi, Jawa Barat. Walaupun saya suka bila melihatnya di kolam renang, tapi batu ini juga bisa diaplikasikan pada bidang pagar, dinding, taman, pilar, dan lain-lain.
7. Batu Marmer Merah (Pacitaroso)
Warna yang cenderung ‘ngejreng’ dan terkesan vokal, membuat jeni batu ini menjadi batu marmer favorit masyarakat. Batu ini pun sudah lama dimanfaatkan sebagai bahan untuk mempercantik bangunan. Hingga saat ini jenis batu marmer merah masih digunakan sebagai bahan elemen interior dan eksterior.
8. Batu Marmer Ujung Pandang
Kesan yang timbul dari batu ini adalah kesan glamour. Batu yang popular pada tahun 90-an ini banyak dimanfaatkan sebagai bahan main floor atau lantai utama. Warna kremnya sangat serasi dengar warna furnitur di sekitarnya. Kualitas dan keindahannya tidak usah dipertanyakan, karena batu yang berasal dari Makassar ini tidak kalah dengan jenis batu marmer impor.
9. Batu Koral Sikat
Mungkin anda sudah tidak asing dengan jenis batu ini. Karena batu koral sangat sering digunakan untuk mempercantik lantai carport, teras, kolam, dan tampilan taman. Batu yang berbentuk bulat kecil ini sangat disuka oleh masyarakat, karena bentuknya yang unik dan memiliki banyak warna serta corak. Harganya pun sangat ekonomis sehingga dapat digunakan oleh beragam kalangan.
10. Mosaik
Mosaik bukan nama batu. Mosaik adalah pola pemasangan batu pada suatu bidang. Batu-batu disusun pada lembaran netting yang dilekatkan menggunakan lem khusus. Pada awalnya teknik ini terinspirasi dari mosaik yang terbuat dari porselain, keramik, dan kaca. Keunikan, keartistikan, dan inovasi yang berkembang, merupakan alasan masyarakat menggemarinya.
Jenis batu yang satu ini sudah lama digunakan sebagai bahan bangunan. Bahkan pada jaman kolonial Belanda, batu ini sering digunakan sebagai bahan untuk mempercantik dinding, pagar, jembatan, bahkan saluran irigasi. Memang pada dasarnya batu ini digunakan sebagai bahan ‘muka’ suatu bangunan. Batu ini diambil dari pinggir sungai dan dikerjakan secara manual oleh masyarakat pada umumnya.
Sifat batu yang padat dan tahan terhadap cuaca serta lumut, membuat batu ini menjadi favorit untuk mempercantik suatu bangunan. Apalagi tipe batu ini sesuai juga untuk bangunan yang memiliki gaya minimalis.

Tuesday, June 14, 2011

TANAMAN PURBA NAN ESKLUSIF

SIKAS. Semua yang disebut di sini masuk KELUARGA SIKAS, jenisnya macam2: Ence, Dioon, Sikas, Zamia. Jadi, kalo mau nyebut Sikas, itu maksudnya Sikas sebagai FAMILY atau sebagai GENUS? Daun sikas tak berketiak; relatif lebih tipis dari Ence; antara satu helai daun dengan lainnya lebih rapat (kalo daun ence renggang2); tak bergerigi; dan banyak warna. Umumnya ijo kayak cendol, tapi ada jenis biru seperti Sikas Couttsiana & Cairnsiana asal Australia, dan ada pula yg keperakan seperti Sikas Siamensis asal Thailand. Contoh Sikas Siamensis & Sikas Couttsiana




DIOON ciri utamanya pangkal daun tak berketiak, alias dari pangkal sampe tengah daun, lebarnya sama. Coba perhatikan daun Dioon Spinulosum ini:



ENCEPHALARTOS atau 'Ence' daunnya tak berketiak seperti Dioon dan lebih tebal dari Sikas. Ence pinggiran daunnya ada yang bergerigi dan tajam2 seperti Ence Senticosus, Arenarius, Ferox, (waktu masih kecil hampir semua jenis daunnya bergerigi), tapi ndak semua: Ence Lehmannii, Cerrinus, Dyerianus pinggiran daunnya polos tak bergerigi. Ence ada yang berdaun biru, seperti spesies Horridus. Contoh daun Enchepalartos Lehmannii



Selain 3 jenis di atas, ada juga beberapa jenis KELUARGA SIKAS yang tangkai daunnya tidak beraturan atau tidak se-roset sikas/dioon/enche.

MACROZAMIA. Misalnya, Diplomera:



CERATOZAMIA. Salah satu spesiesnya Hildae:



BOWENIA. Hanya ada 2 spesies: Serrulata & Spectabilis. Contoh Bowenia Spectabilis:



LEPIDOZAMIA. Juga hanya ada 2 spesies: Hopei & Peroffskyana. Contoh spesies kedua:



ZAMIA. Di Indo paling terkenal Zamia Furfuracea:



Yg berikut, masing2 jenis hanya memiliki 1 spesies.

CHIGUA Restrepoi:



STANGERIA Eriopus:



 

ORDO CYCADALES

I. Subordo CYCADINEAE
-A. Keluarga CYCADACEAE
---1. Subkeluarga CYCADOIDEAE
-------a. Jenis CYCAD
--------- Spesies (ada 105), misal: Revoluta, Couttsiana, dll.

II. Subordo ZAMIINEAE
-A. Keluarga STANGERIACEAE
---1. Subkeluarga STANGERIOIDEAE
-------a. Jenis STANGERIA
--------- Spesies: Eriopus
---2. Subkeluarga BOWENIOIDEAE
-------a. Jenis BOWENIA
--------- Spesies: Spectabilis
-B. Keluarga ZAMIACEAE
---1. Subkeluarga ENCEPHALARTOIDEAE
-----i. Suku DIOOEAE
-------a. Jenis DIOON
--------- Spesies (13): Edule, Spinulosum, dll.
-----ii. Suku ENCEPHALARTEAE
-------a. Jenis ENCEPHALARTOS
--------- Spesies (66): Natalensis, Horridus, dll.
-------b. Jenis MACROZAMIA
--------- Spesies (41): Riedlei, Fischeri, dll.
-------c. Jenis LEPIDOZAMIA
--------- Spesies: Peroffskyana, dll.
---2. Subkeluarga ZAMIOIDEAE
-----i. Suku CERATOZAMIEAE
-------a. Jenis CERATOZAMIA
--------- Spesies (26): Mexicana, dll.
-----ii. Suku ZAMIEAE
-------a. Jenis MICROCYCAS
--------- Spesies (1): Calocoma
-------b. Jenis CHIGUA
--------- Spesies (2): Restrepoi & ...
-------c. Jenis ZAMIA
--------- Spesies (65): Furfuracea, Pumila, dll.

BUDIDAYA TANAMAN HIAS


               PERKEMBANG BIAKAN TANAMAN            

vegetativeSeperti layaknya mahluk hidup lainnya, tanaman juga dapat berkembang biak. Perkembangbiakan tanaman secara garis besar dapat dibagi menjadi 2 yaitu perkembangbiakan secara alami dan juga buatan.
Perkembangbiakan alami adalah perkembangbiakan tanaman oleh tanaman itu sendiri secara alami atau dibantu oleh alam. Sedangkan perkembangbiakan secara buatan adalah perkembangbiakan tanaman yang mendapat campur tangan manusia.
Tanaman berkembangbiak secara alami melalui berbagai macam cara. Tanaman berkembangbiak secara alami dengan 2 cara yaitu generatif dan vegetatif. Generatif adalah bahwa tanaman tersebut berkembang biak secar kawin, yaitu bertemunya sel jantan yang terdapat pada benang sari dan sel betina yang terdapat pada putik. Bertemunya 2 sel ini nantinya akan menghasilkan buah yang berbiji 2 yaitu dikotil. Tanaman yang dikembangbiakkan melalui cara ini biasanya memiliki sifat genetis yang berbeda dari tanaman induk dan biasanya mengalami kemunduran.
Perkembangbiakan secara vegetative dapat terbentuk dari sel jaringan nucellus, serta terbentuknya tanaman dari bagian bagian khusus yaitu umbi, rhizome, runner dan anakan. Perkembangbiakan dengan terbentuknya umbi juga terbagi menjadi beberapa cara yaitu umbi lapis seperti terbentuknya bawang dan bunga tulip, umbi sisik seperti terbentuknya bunga gladiol, umbi batang seperti terbentuknya kentang dan umbi akar seperti terbentuknya ubi jalar.
Perkembangbiakan secara vegetative alami dengan rizhoma terlihat pada terbentuknya jahe, sedangkan akar rimpang atau runner atau batang menjalar pada permukaan tanah adalah seperti terbentuknya strawberry. Untuk perkembangbiakan dengan anakan contohnya nanas, pisang, salak, dan lidah buaya. Anakan yang telah tumbuh harus segera dipisah dari induknya dengan hati-hati supaya tidak merusak tanaman induk dan akar anakan tersebut.
Perkembangbiakan dengan campur tangan manusia adalah rundukan, cangkok, stek, okulasi, sambung pucuk, penyusuan dan kultur jaringan. Perkembangbiakan dengan rundukan adalah cara perkembangbiakan dengan cara membengkokkan cabang dan dibenamkan ke dalam tanah dengan melukai bagian cabang yang akan dibenamkan untuk mempercepeat tumbuhnya akar. Perkembangbiakan seperti ini adalah perkembangbiakan dari tanaman melati, jambu monyet dan ketimun.
Perkembangbiakan buatan yang banyak dikenal oleh masyarakat lainnya adalah cangkok. Tanaman berkayu hampir semuanya dapat dicangkok dan pengerjaan cangkok sebenarnya sangat mudah, hanya saja perlu memperhatikan beberapa hal saja yaitu waktu mencangkok, pemilihan batang dan pemeliharaan cangkokan. Pilihlah batang yang tidak terlalu tua, kuat, subur dan tidak mengandung penyakit. Lebih bagus lagi bila banyak buahnya. Cangkok baik dilakukan pada saat musim penghujan. Selain cangkok, stek jugatermasuk perkembangbiakan buatan yang mudah untuk dilakukan.
Anda dapat memisahkan atau memotong beberapa bagian tanaman untuk menghasilkan bibit tanaman yang banyak dalam waktu singkat. Beberapa macam stek adalah stek akar untuk mengembangkan jambu biji, cemara, sukun, stek batang untuk kentang, ubi jalar, stek cabang untuk mangga, rambutan, jeruk, kopi, dan teh serta stek daun untuk begonia, sanseviera dan cocor bebek. Untuk anda yang menginginkan hasil perkembangbiakan yang hasilnya bagus dapat memilih okulasi untuk mengembangbiakkan tumbuhan.
Okulasi dapat dilakukan dengan menempelkan mata tunas diambil dari tanaman induk yang unggul dan ditempel ke tumbuhan yang berakar kuat. Sayangnya okulasi membutuhkan waktu lama untuk berhasil, kira-kira 12-24 bulan. Pilihan lainnya adalah sambung pucuk yaitu cara yang menempelkan batang induk untuk disambung dengan batang bawah yang ditanam dari biji. Untuk tanaman buah atau tanaman yang sulit dikembangbiakkan dengan cara lain, penyusuan merupakan cara yang paling cocok. Penyusuan dilakukan dengan cara menyambung 2 buah batang yang sama besar yang telah disayat miring dan diikat sampai kira-kira 3 minggu setelah itu ikatannya bisa dilepas.
Sampai saat ini perkembangbiakan tanaman berkembang seiring dengan berkembangnya teknologi. Para peneliti di seluruh dunia menaruh perhatian khusus terhadap penelitian perkembangbiakan tanaman untuk menghasilkan tanaman baru supaya mendapatkan hasil tanaman yang terbaik. Penelitian di bidang pangan berupaya untuk menghasilkan tanaman pangan dengan kualitas nomor satu untuk mendapatkan bibit unggul.
generatifBibit tanaman yang terbaik dapat menjadi komoditas ekspor yang berujung dengan bertambahnya kas negara dari devisa yang dihasilkan. Kultur jaringan merupakan hasil dari perkembangan teknologi pertanian yang dapat menghasilkan bibit unggul serta varietas baru. Kultur jaringan juga dapat dilakukan untuk pelestarian jenis tanaman tertentu yang mulai langka. Kultur jaringan memerlukan pendidikan khusus yang dilatarbelakangi dengan pendidikan kimia dan biologi. Untuk melakukan kultur jaringan diperlukan media dengan berbagai bahan campuran seperti garam mineral, asam amino, gula vitamin dan hormone tumbuhan yang dilakukan dalam keadaan suci hama.
Pertumbuhan tanaman dipengaruhi oleh faktor genetis dan faktor lingkungan. Faktor genetis merupakan faktor yang terdapat dalam tanaman seperti benis, varietas, hormone serta lainnya. Sedangkan faktor lingkungan adalah faktor seperti keadaan tanah, iklim, cuaca, suhu, air dan udara. Seperti mahluk hidup lainnya, tanaman juga dapat beradaptasi dengan lingkungan serta perubahan-perubahan yang terjadi baik perubahan fisiologis, atau morfologis.
Tanaman sebenarnya memiliki kemampuan untuk bertahan terhadap perubahan iklim, hama penyakit, absorbsi tanah serta pembatasan respirasi yang ditunjukkan dengan perubahan struktur tubuh tanaman tersebut. Adaptasi tanaman dapat berlangsung dengan baik bila tanaman dipindahkan dari tempat lain ke tempat yang kondisinya hampir serupa. Walaupun telah ada rekayasa pengetahuan dan teknologi namun supaya proses pertumbuhan tanaman dapat berlangsung dengan baik maka hendaknya jangan memindahkan tanaman ke tempat yang kondisinya benar-benar berbeda.